Senin, 26 September 2011

Essay Pertama (Humanistic Studies)

Ekspektasi dan Bagaimana Saya Menganggap Orang Lain di Sekitar
Oleh: Woro Retno Kris Sejati

Rasanya shock ketika mendengar bahwa di mata kuliah Humanistic Studies ini akan membahas tentang karakter kita yang lebih mendalam lagi. Menurut saya hal ini sangat tidak pantas untuk dilakukan karena mengganggu privasi dalam diri seseorang. Terlintas dibenak saya waktu itu adalah akan banyak terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi dalam mata kuliah yang satu ini.
            Pertemuan pertama di Humanistic Studies membahas tentang materi-materi apa saja yang akan diberikan, tugas-tugas, pembagian kelompok dan aturan-aturan yang harus ditaati dalam kelas. Sangat menyenangkan ketika dosen menyuruh mahasiswanya sendiri yang membuat peraturan kelas. Namun sangat menegangkan ketika saya mendengar bahwa mata kuliah ini juga akan membahas tentang perbedaan agama yang ada di Indonesia serta isu-isu tentang agama yang hangat di Indonesia ini. Bukan hanya perbedaan agama saja yang akan dibahas tetapi perbedaan ras dan budayapun juga akan dibahas.
            Disatu sisi perbedaan memanglah indah, tapi disisi yang lain perbedaan bisa membawa kita kedalam kehancuran dan perpecahan yang sangat tidak terduga. Bagi saya sendiri perbedaan bukanlah hal yang harus membuat kita pecah. Justru seharusnya perbedaan itu membawa kita kedalam hidup yang lebih berwarna dan saling menghargai satu sama lain.
            Saya mempunyai beberapa harapan dari mata kuliah ini. Pertama, suasana dikelas tetap asyik dan tetap menjadi suasana diskusi bukan suasana debat. Kemudian dosen benar-benar bertindak sebagai penengah dan tidak memihak atau memojokkan pada satu kelompok. Dan harapan terbesar saya adalah mahasiswa SSE yang mengikuti kuliah ini termasuk saya semakin terbuka pikirannya untuk menghargai perbedaan. Selain itu, juga mengetahui bagaimana kita harus bersikap dan merespon orang lain di sekitar kita agar kita tidak melukai hati orang lain.
            Menurut saya, kita harus bisa menghargai orang lain apapun kedudukannya. Namun saya sendiri kurang bisa menghargai orang yang kebanyakan tingkah ketika kami pertama kali kenal. Sebagai contoh misalnya orang yang tidak sopan, belagu, tidak bisa menghargai orang lain, suka nyeletuk dan omongannya ngawur. Parahnya lagi, kalau saya tidak suka orang lain, biasanya saya benar-benar tidak peduli dengan apapun yang menyangkut dengan orang tersebut.
            Dalam pergaulan sehari-hari, saya berusaha agar tetap bisa menghargai orang lain. Dari kecil saya dididik untuk tidak membeda-bedakan teman dan mereka memberikan contoh-contoh bagaimana untuk menghargai orang lain. Mereka selalu mengatakan agar saya bisa menjadi pendengar yang baik bagi orang lain dan tidak membuat sakit hati orang lain. Bapak saya sering mengatakan kata-kata ini, “jangan lihat siapa yang berbicara tapi dengarkanlah apa isi dari pembicaraannya”. Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam benak sebagai pedoman agar saya harus menghargai orang lain. Menurut pendapat saya untuk menghargai orang lain kita tidak boleh membandingkan seseorang dengan orang lain berdasarkan sifat asli dalam diri mereka. Kita harus berteman dan bergaul dengan orang itu sesusai dengan sifat mereka punyai.
             Saya mempunyai kelemahan yang sampai saat ini belum dapat saya atasi sepenuhnya. Salah satunya adalah karena saya terlalu menjaga perasaan orang lain, saya susah untuk menegur ataupun jujur kepada orang lain jika mereka melakukan hal yang sebenarnya tidak saya sukai. 

2 komentar:

  1. Ketakutan untuk berbicara agama diruang publik adalah keberhasilan Orde Baru untuk menempatkan agama sebagai sesuatu yang sensitif. Apakah dengan tidak membicarakannya, seluruh masalah agama dan antar agama akan terselesaikan?

    BalasHapus
  2. Saya menyadari bahwa memang seluruh masalah agama dan antar agama tidak akan pernah selesai jika tidak ada yang berani memulai untuk mendiskusikannya.
    Saya juga setuju kata bapak bahwa seseorang harus mendengar dan mengetahui sendiri apa yang ada dalam agama lain agar tidak meremehkan agama lain.

    BalasHapus