Selasa, 01 November 2011

-Saya Woro yang Berbeda dengan Woro yang Lain-
Identitas seseorang. Apa yang terlintas didalam benakmu ketika mendengar kata ini? Dalam benak saya terlintas sebuah daftar riwayat hidup yang isinya benar-benar menceritakan nama, tempat tanggal lahir, alamat dan lain sebagainya yang intinya membedakan kita dengan orang yang mungkin bernama sama dengan kita. Jadi identitas berarti suatu hal yang membuat kita beda dengan orang lain baik dari hal paling mendasar yaitu nama lengkap hingga mungkin sifat yang melekat dalam diri setiap individu.
Penulis yang dari lahir sampai saat ini bernama Woro Retno Kris Sejati, wanita, lahir dan besar di Jawa, mempunyai agama Kristen, anak dari Sudiman dan Sarmi pasti mempunyai perbedaan dengan Woro Retno Kris Sejati yang lain yang lahir ditempat lain, mempunyai agama dan orangtua lain pula. Apa yang membedakan penulis dengan orang lain itu? Pertama Woro Retno Kris Sejati lahir di Jawa menjadikan suku Jawa menjadi identitasnya. Dalam kehidupan sehari-harinya penulis selalu bertemu orang Jawa dan hidup dilingkungan adat Jawa. Sehingga terbentuklah karakter seperti orang Jawa pada umumnya (lemah lembut, sabar dan suka mengalah). Oleh karena kata orang yang mematok bahwa orang Jawa itu lemah lembut, selama ini penulis berusaha untuk menjadi orang yang lemah lembut. Meskipun mungkin orang lain melihat penulis sebagai orang yang tingkah lakkunya tidak lemah lembut. Menurut pandangan penulis sendiri, lemah lembut bukan hanya bisa ditampilkan dengan tingkah lakunya tapi lebih pada lemah lembut hatinya.
Sebagai anak dari Sudiman, tentu saja ada orang lain yang mempunyai identitas yang sama dengan saya. Tapi apakah yang membedakan orang lain itu dengan saya? satu yang pasti saya anak dari Sudiman dan nama saya Woro. Woro yang menyandang identitas sebagai anak Sudiman ini berbeda juga dengan Woro lain yang juga anak orang lain. Apa yang membedakan? Woro anak Sudiman ini dari kecil dididik untuk menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, menghargai keberadaan orang lain dan tidak bersikap manja. Namun apakah orang lain telah melihat saya menjadi priibadi yang seperti itu. Menurut penulis itu tergantung kepada seberapa dalam orang lain itu mengenal diri penulis.
Mungkin ada orang lain bernama Woro tapi berjenis kelamin lain dengan penulis. Identitas wanita yang melekat dalam diri penulis mengharuskannya untuk bersikap wanita. Seperti apakah wanita itu menurut penulis, maka sikap itulah yang penulis tampilkan agar orang lain menerima identitas penulis sebagai wanita. Pertama wanita adalah orang yang sedikit mau mengalah demi kebaikan tapi bukan berarti mengalah untuk ditindas. Kedua wanita adalah pendengar dan pengatur yang baik untuk orang lain. Ketiga wanita adalah orang yang harusnya peka terhadap lingkungan. Keempat wanita harus menjaga sopan santun dan tata karma serta bisa menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan dan masih banyak lagi kriteria penulis tentang wanita yang tidak bisa dijabarkan satu persatu. Penulis mempunyai pandangan tersendiri tentang wanita dan selama ini berusaha bertindak seperti pengertian wanita menurut pandangannya.
            Pada intinya, setiap manusia adalah beda. Kita semua punya identitas yang pasti tidak sama dengan orang lain. Tanyakan saja pada diri kita siapakah saya? Apa yang membuat saya beda dengan identitas orang lain? Maka kita akan menemukan identitas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar